Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Sejarah Pembukuan Al-Qur'an

Setelah Nabi SAW wafat, Abu Bakar al-Shiddiq RA diangkat menjadi pengganti Nabi SAW.  Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan serta munculnya Musailamah yang mengaku sebagai Nabi baru. Tentu hal ini amat merisaukan Umat Islam. Abu Bakar pun memerintahkan para sahabat untuk menumpas Musailamah dan para pengikutnya. Meski Nabi palsu ini berhasil ditumpas, namun tidak sedikit para sahabat yag gugur sebagai Syahid. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang telah hafal Al-Qur’an secara keseluruhan.

Melihat keadaan diatas, Umar bin Khattab RA merasa prihatin dan terdorong untuk memikirkan kelestarian Al-Qur’an. Jika para penghafal Al-Qur’an gugur satu persatu, bukan tidak mungkin Al-Qur’an akan hilang dipermukaan bumi. Akhirnya Umar yang jenius mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar RA agar membukukan naskah-naskah Al-Qur’an yang berserakan ditangan masing-masing sahabat.

Khalifah Abu Bakar RA dan Umar Bin Khattab memberikan kepercayaan kepada Zaid bin Tsabit RA sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengumpulan naskah Al-Qur’an. Kerja Zaid bin Tsabit tersebut mendapat dukungan para sahabta serta dilaksanakan dalam waktu yang singkat, yakni kurang lebih setahun. Kerjaan ini memerlukan ketelitian yang mendalam, kepercayaan yang besar, dan ketekunan yang tinggi. Sedikit kecerobohan akan berdampak fatal.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, lembaran-lembaran tulisan Zaid tersimpan dengan baik. Selama pemerintahannya Umar bin Khattab memfokuskan pada pengajaran Al-Qur’an. Setiapa daerah baru, Khalifah umar mengirim beberapa sahabat untuk menjadi Guru Al-Qur’an. Karena lembaran Al-Qur’an belum tersebar, maka proes pengajaran yang menggunakan sistem hafalan dibawah kendali Sahabat peghafal Al-Qur’an. Ketika Khalifah Umar RA ditikam oleh seorang penjahat, lembaran-lembaran Al-Qur’an diserahkan kepada putrinya yang sekaligus istri Nabi SAW, Hafshah RA. Penyerahan kepada Hafshah dipandang lebih aman daripada orang lain yang belum tentu akan dipilih sebagai kepala negara. Pengangkatan kepala negara pengganti Umar dilakukan melalui musyawarah para sahabat. Karenanya, Khalifah Umar sendiri tidak mengetahui secara pasti siapa penggantinya kelak serta tidak ingin mempengaruhi hasil musyawarah dengan menyerahkan kepada salah seorang sahabat.

  1. Proses Penggandaan Mushaf Al-Qur’an

Ketika musyawarah para sahabat senior menentukan ‘Utsman bin Affan RA sebagai khalifah, peperangan diberbagai daerah masih berlangsung. Di Medan peperangan ini muncul permasalah besar yaitu perselisihan dikalangan prajurit. Perselisihan ini dikhawatirkan akan merusak persatuan. Karenanya perselisihan ini harus dilaporkan kepada khalifah yang baru, ‘Utsman bin ‘Affan RA.

Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak. Diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap ‘Utsman dan melapor kepadanya apa yang telah dilihatnya. ‘Utsman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat kepada anak-anak. Para sahabat amat memperihatinkan kenyataan ini karena takut perbedaan mengenai bacaan Al-Qur’an akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka sepakat unuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang ada pada Abu bakar dan meyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf.

‘Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian ‘Utsman memanggil Zaid bin Tsabit al-ansari, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Tsabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir ini adalah suku Quraisy; lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu didalam bahasa Quraisy, karena Al-Qur’an turun dalam logat mereka.

Dalam hal ini perlu dibedakan antara al-shuhuf  (lembaran-lembaran al-Qur’an) dan al-mushhaf  (Al-Qur’an yang sudah dibukukan menjadi satu kitab). Lembaran Al-Qur’an adalah tulisan Al-Qur’an diatas lembaran-lembaran kertas yang belum terjilid dimasa pemerintahan Abu Bakar RA. Dalam lembaran ini, penulisan Al-Qur’an disesuaikan dengan urutan ayat. Sementara mushaf adalah tulisan Al-Qur’an diatas kertas-kertas yang kemudian dijilid menjadi sebuah buku. Didalamnya tertulis berdasarkan ayat dan surat. Mushaf ini dikerjakan oleh 4 orang sahabat

Kemudian para sahabat menghafalkannya dan ada pula yang mencatatnya. Namun, setelah Rasulullah wafat terjadi kekhawatiran di kalangan para sahabat. Mereka takut bahwa Alquran akan punah karena pada saat itu banyak para hafidz Alquran yang gugur di dalam pertempuran.

Dari situlah Umar bin Khattab memiliki gagasan bahwa sebaiknya Alquran dibukukan. Pada awalnya, khalifah Abu Bakar menolak gagasan ini karena apa yang diusulkan oleh Umar tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Namun setelah menjelaskan bahwa semua ini demi kebaikan umat Islam maka khalifah Abu Bakar menyetujui gagasan Umar, kemudian Abu Bakar memerintahkan agar naskah dari ayat-ayat yang sudah ditulis itu dikumpulkan untuk disalin dan disusun kembali.

Abu Bakar dalam hal ini menunjuk Zaid bin Tsabit untuk melakukannya, karena dia adalah penulis suhuf-suhuf di zaman Rasulullah. Zaid diperintahkan untuk mengumpulkan suhuf-suhuf Alquran baik yang terdapat pada pelepah kurma, tulang hewan maupun dari para penghafal Alquran yang masih hidup. Setelah selesai disusun, Abu Bakar kemudian menyimpan mushaf ini hingga ia wafat.

Setelah Abu Bakar wafat, maka kekhalifahan berpindah ke tangan Umar. Pada nasa kekhalifahannya, tidak ada kegiatan pembukuan Alquran lagi. Sehingga pada masa kekuasaan Umar bin Khattab hanya fokus pada penyebaran agama Islam. Dan hingga Umar wafat, tidak ada perdebatan tentang Alquran.

Kemudian kekhalifahan berpindah kepada khalifah Usman bin Affan. Pada masa Usman bin Affan, kekuasaan Islam sudah sangat luas. Sehingga pemeluk Islam pada masa itu tidak lagi hanya bangsa Arab saja.

Dan disinilah persoalan baru muncul. Salah seorang sahabat bernama Hudzaifah ibnu Yaman yang baru pulang dari pertempuran mengabarkan kepada khalifah bahwa timbul perdebatan tentang qiraat (bacaan) Alquran dikalangan kaum muslimin. Diantara mereka ada yang menganggap bahwa bacaannya lah yang paling baik.

Dari persoalan itu Hudzaifah mengusulkan kepada khalifah agar segera diambil kebijaksanaan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut agar masalah tersebut tidak menimbulkan perpecahan umat Islam.

Usul tersebut kemudian langsung diterima oleh khalifah Usman bin Affan dengan langsung mengirim utusan untuk meminta mushaf kepada Hafsah yang disimpan di rumahnya untuk disalin.

Zaid kembali ditunjuk oleh Usman sebagai ketua pembukuan Alquran ini dengan anggota-anggotanya yaitu Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash dan Abdurahman bin Harits.

Setelah selesai, Usman kemudian mengembalikan mushaf yang asli kepada Hafsah untuk disimpan. Kemudian mushaf salinan tadi dikirimkan ke berbagai penjuru negeri seperti Mekah, Kuffah, Basrah dan Suriah.

Mushaf tersebutlah yang sekarang dikenal dengan mushaf Usmani. Dan ini adalah cara Allah dalam menjaga dan memelihara Alquran melalui perantara para sahabat Nabi, dengan membukukan Alquran maka hingga saat ini Alquran masih terjaga kemurniannya sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr ayat 9]

Semoga para sahabat tersebut mendapat tempat terbaik disisi Allah karena telah berjasa kepada seluruh umat Islam. Aamiin.